BAHAYA MINUMAN KERAS

 Oleh:KH.Nurshodiq Isbandi,Spdi

Saudara hadirin sidang jum’at yg dimulyakan Allah..

Mari kita panjatkan puji syukur kita kehadirat Allah swt atas semua nikmat Nya yang telah kita terima. Semoga dengan syukur ini akan menjadi sebab semakin banyak dan berkahnya nikmat yang kita dapatkan dariNya, Amiin.

Selanjutnya Sholawat dan Salam Allah swt mari kita sanjungkan keharibaan junjungan kita Rosululloh Muhammad saw sambil kita berharap semoga di kiamat nanti kita di akui sebagai umatNya. Dan tergolong orang yang mendapatkan Syafaat dariNya. Amiin..

Sebagai khotib saya berwasiat untuk diri saya sendiri dan saudara saudara sekalian “Mari kita tingkatkan kwalitas Taqwa kita kepada AllOh swt.

Saudara hadirin sidang jum’at yg dimulyakan AllOh..

Saat ini bangsa Indonesia baru saja memperingati HUT-RI ke-69. Artinya kita bangsa Indonesia telah merdeka selama 69 tahun. Di satu sisi kita bersyukur  atas kemerdekaan Negara ini. tapi di sisi lain kita patut prihatin. Kenapa kita musti prihatin..? Karena sebagai Negara yang  mayoritas warganya beragama Islam, Negara ini merdeka juga hasil perjuangan para pahlawan yang mayoritas juga beragama Islam, anggota DPR dan MPR kita mayoritas juga beragama Islam. Tapi Sayangnya kita belum punya Undang Undang Anti  Minuman Keras.

Di beberapa daerah memang sudah banyak yang mempunyai PERDA MIRAS. Itupun belum sepenuhnya efektif karena sistem pengawasannya yang masih lemah. Masih sering kita jumpai di toko toko swalayan kecil di sekitar kita yang masih menjual minuman keras. Pahadal dalam perda itu di sebutkan bahwa minuman beralkohol sekian persen hanya boleh di perjual belikan di sentra sentra wisata dan hotel berbintang.

Bukan hanya itu saudara, anak sekolah seusia SLTP saja masih bisa beli minuman beralkohol, padahal PERDA itu melarang penjualan minuman beralkohol kepada anak di bawah usia 17 tahun.

Akhirnya banyak terjadi tawuran antar sekolah,tawuran antar remaja,kejahatan dimana mana,kecelakaan,dan banyak criminal yang terjadi akibat minum minuman beralkohol. Karena minuman keras atau dalam bahasa arab sering di sebut sebagai komr itu adalah biangnya kejahatan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw dalam haditsnya

 

الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Khamr itu adalah induk keburukan (ummul khobaits) dan barangsiapa meminumnya maka Allah tidak menerima sholatnya 40 hari. Maka apabila ia mati sedang khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dalam keadaan bangkai jahiliyah. (HR At-Thabrani, Ad-Daraquthni dan lainnya, dihasankan oleh Al-Albani)

Saudara hadirin sidang jum’at yg dimulyakan AllOh..

Patutlah kiranya kita kembali mengingat betapa AllOh Azza wa Jalla telah secara tegas melarang minuman keras atau khamr. Larangan AllOh SWT tentang minuman keras atau khamr ini dulunya memang bertahap, tetapi setelah final hukumnya, hukum haram itu tak lagi berubah dan tak ada satu kekuasaan pun yang berhak mengubahnya.

AllOh SWT berfirman tentang khamr pada tahap pertama,


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya… (QS. Al-Baqarah : 219)

Setelah turunnya ayat ini, para sahabat yang dulunya pemabuk sudah mulai menurunkan intensitas interaksinya dengan khamr. Namun, sebagiannya belum lepas sama sekali. Hingga suatu ketika ada sahabat yang mengimami Shalat, bacaannya keliru karena mabuk. Maka AllOh SWT menurunkan firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (QS. An-Nisa’ : 43)

Sampai di sini, frekuensi interaksi dengan minuman keras (khamr) berkurang lagi.
Lalu pada tahap terakhir AllOh SWT menegaskan :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah: 90)

Sejak mengetahui ayat ini, seketika para sahabat menghentikan berinteraksi dengan minuman keras. Mereka berhenti mabuk sama sekali. Bahkan seketika membuang khamr yang masih mereka simpan ke jalan-jalan. Sehingga digambarkan, sebagian jalan-jalan di Madinah saat itu “tergenang” oleh khamr.

Rasulullah SAW bersabda tentang haramnya minuman keras (khamr) :


كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِى الدُّنْيَا فَمَاتَ وَهُوَ يُدْمِنُهَا لَمْ يَتُبْ لَمْ يَشْرَبْهَا فِى الآخِرَةِ

Setiap minuman yangmemabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga) (HR. Muslim)

Maka dengan demikian, hendaklah kita kembali ingat bahwa perkara haramnya minuman keras (khamr) telah demikian jelas dan tegas.

Saudara hadirin sidang jum’at yg dimulyakan AllOh..

Jika haramnya minuman keras sudah kita ketahui bersama, ingatlah bahwa sesuatu yang diharamkan AllOh swt pasti mengandung kemudharatan atau bahaya besar bagi manusia. Diantara bahaya minuman keras adalah sebagai berikut :

1. Minuman keras (khamr) adalah induk kejahatan


الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Khamr itu adalah induk keburukan (ummul khobaits) dan barangsiapa meminumnya maka Allah tidak menerima sholatnya 40 hari. Maka apabila ia mati sedang khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dalam keadaan bangkai jahiliyah. (HR At-Thabrani, Ad-Daraquthni dan lainnya, dihasankan oleh Al-Albani)

Dari minuman keras, terutama ketika peminumnya mabuk, maka hilanglah akalnya. Ia tak sadar bahwa kemaksiatan lain segera mengikuti. Seperti berkata kotor, tindak kekerasan, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain.

2. Efek buruk terhadap kesehatan

Seperti telah lazim diketahui, minuman keras sangat buruk bagi kesehatan manusia. Minuman keras akan merusak Syaraf karena mengandung zat aditif yang jika dikonsumsi walaupun sedikit akan mengakibatkan kecanduan yang luar biasa. Kerusakan syaraf ini berdampak pada melemahnya keseimbangan tubuh dan berkurangnya kepekaan indra peraba.

Minuman keras juga merusak jantung. Dalam jangka pendek minuman keras membuat jantung berdegup lebih cepat. Sebenarnya ini terjadi karena minuman keras atau minuman beralkohol dapat merusak sel-sel tubuh, termasuk sel-sel jantung.

Minuman keras juga merusak metabolisme tubuh. Menurut penelitian University of Maryland Medical Center penggunaan alkohol bisa menyebabkan penyakit hati kronis, seperti fatty liver yang bisa ditemui bahwa 90 persen penderitanya adalah pengguna alkohol. Minuman keras juga bisa mengakibatkan gagal liver.

3. Minuman keras merusak kecerdasan

Sebagaimana minuman keras merusak syaraf, ia juga akan mengakibatkan kecerdasan menurun, bahkan menurun signifikan. Jika pada saat mabuk kesadaran dan akal hilang, penggunaan minuman keras dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan kecerdasan akal rusak meski dalam keadaan sadar/tidak mabuk.

Saudara hadirin sidang jum’at yg dimulyakan AllOh..

Semoga dalil haramnya minuman keras dan sebagian bahayanya membuat kita tidak mengundang murka AllOh swt dengan menentang aturannya untuk melegalkan minuman keras di negeri kita tercinta. Sebaliknya, seharusnya wakil wakil rakyat kita segera membuat undang undang yang efektif mencegah peredaran dan konsumsi minuman keras, sejalan dengan petunjuk Allah SWT.

MEWUJUDKAN ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DALAM KEHIDUPAN

“Rahmat” adalah sesuatu yang indah. Di dalam Al-Qur’an, tersebut tidak kurang dari 114 kali kata “Rahmat”. Beberapa ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa “Rahmat” senantiasa bersentuhan dengan kelembutan, rasa cinta dan kasih sayang. Ketika Rasulullah saw. dinyatakan sebagai “rahmatan lil-‘alamin”, maka mengandung maksud bahwa kepribadian beliau serta ajaran-ajaran Islam yang beliau sampaikan sarat dengan kelembutan, cinta damai, dan kasih sayang.

Kalau kita mengakui secara jujur bahwa “Rahmat” itu sesuatu yang sangat sakral, pertanyaannya adalah : sudahkah rahmat yang Allah berikan melalui Nabi Muhammad dibawa ke seluruh umat manusia lalu diamalkan oleh orang Islam, sudahkah rahmat itu memberi efek samping bagi sekelilingnya?

Pada dasarnya ciri manusia senang mendapatkan rahmat tetapi setelah mendapatkan rahmat ia lupa memberikan dan mensyukurinya. Allah SWT berfirman“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Al-Zukhruf {43}: 32).

Kedudukan umat Islam dan pribadi Muslim agar dapat menjadi  rahmat bagi seluruh alam, maka ada beberapa  konsekuensi yang dapat direalisasikan :

  1. Memegang teguh prinsip persaudaraan (al-ukhuwah)

Bahwa setiap manusia hanya bisa memenuhi kebutuhannya, bila bersedia untuk hidup bermasyarakat. Dengan bermasyarakat, manusia berusaha mewujudkan kebahagiaan dan menolak ancaman yang membahayakan diri mereka. Persatuan, ikatan batin, saling membantu dan keseia-sekataan merupakan prasyarat dari timbulnya persaudaraan (ukhuwah) dan kasih sayang yang menjadi landasan bagi terciptanya tata kemasyarakatan yang baik dan harmonis, kebersamaan dan hidup berdampingan baik dengan sesama umat Islam maupun dengan sesama warga negara.

Memang diakui, bahwa realisasi  persaudaraan/ukhuwah, baik ukhuwah Islamiyah (sesama agama), ukhuwah wathaniyah (sesama warga negara), maupun ukhuwah basyariyah (sesama umat manusia,) tidak semulus yang ingin dicapai. Di sini perlu telaah mendalam mengenai faktor-faktor penghambat. Secara umum dapat dikemukakan antara lain, adanya fanatisme buta dan rasa bangga diri yang berlebihan. Faktor sektarian ini kadang sampai pada penilaian benar-salah yang mengakibatkan ketegangan atau kesenjangan tertentu. Karenan memang manusia mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Hal ini diisyaratkan dalam beberapa ayat al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia dengan bermacam-macam jenis, suku, ras, dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenal. (QS. Al-Hujurat {49}: 12).  Dan pada penjelasan ayat lain Allah tidak melarang umat manusia untuk berkelompok atau berbeda pendapat dalam arti perbedaan dalam badan dan organisasi. Maka wajar kalau manusia itu berpotensi ada perbedaan pendapat, terjadi perselisihan yang mengakibatkan retaknya ikatan persaudaraan. Maka Al-Qur’an memberikan  solusinya sekalipun perbedaan itu sunnatullah (keniscayaan),  tapi tidak boleh perbedaan itu mengakibatkan penyimpangan arah dan tujuan, yakni menjaga ikatan persaudaraan, meningkatkan kesejahteraan bersama, menegakkan keadilan, menolak penindasan dan kezaliman. (QS. Al-Maidah {5}: 48).

2.Menciptakan rasa aman dan damai.

Tidak ada satu kegiatan yang dilakukan seseorang dapat berkonsentrasi  kecuali tersirat di dalam keberadaannya kini dalam keadaan aman. Karena rasa aman merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Bahkan begitu urgennya rasa aman itu dinilai lebih dibutuhkan daripada kesehatan. Yang sakit tapi merasa aman, tidak merasakan sakitnya, sedang yang tidak merasa aman, walau sehat, akan selalu merasa terganngu hidupnya. Karena itu dapat dimengerti  jika Nabi Muhammad saw. bersabda:

مَـنْ أَصْـبَحَ مِنـكُم آمِـنَا فِي سِــرِّ بِهِ مُـعَافِـيًا فِي جَـسَـدِهِ عِـنْـدَهُ قـُـوْتُ يَـوْمِهِ فَـكَأنَّمَـا حِـيْـزَتْ لَهُ الدُّنْـيَا (رواه الـترمـذي)

Siapa di antara kamu yang telah merasa aman hatinya, sehat badannya, dan memiliki makanan sehari-harinya, maka ia bagaikan telah dianugerahi dunia.      (HR. at-Tirmidzy)

Bukanlah satu hal yang sulit untuk membuktikan pernyataan yang menyatakan bahwa Islam sangat mendambakan terciptanya rasa aman dan damai dalam segala aspeknya. Contoh penghormatan atas hak-hak asasi manusia, kewajiban amar makruf dan nahi munkar. Demikian juga ajaran syariatnya seperti mewajibkan yang mampu membayar zakat kepada yang butuh sehingga terpenuhi kebutuhan mereka, dan tuntunannya untuk berlaku adil walau terhadap keluarga dan diri sendiri, serta ajaran tentang syura (musyawarah) dan lain-lain. Prinsip dasar interaksi yang ditetapkan Islam adalah “La dharar wa La dhirar” yang mengandung arti larangan melakukan perusakan terhadap diri dan pihak lain, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk larangan perusakan lingkungan, karena perusakannya mengakibatkan kerusakan diri  dan makhluk lain.

Sedemikian berharga rasa aman bagi manusia, sampai-sampai balasan di dunia yang dijanjikan Allah kepada mereka yang menyambutnya antara lain adalah rasa aman itu sendiri. “…dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa..”. (QS. Al-Nur {24}: 55). Namun sebaliknya, Allah mengancam dengan kelaparan dan rasa takut yang dapat menimpa masyarakat akibat kekufuran mereka. (QS. Al-Nahl {16}: 112)

Dari kedua ayat tersebut terbaca dengan jelas kaitan antara iman dan rasa aman; seseorang yang dikatakan beriman akan merasa aman dengan siapa yang yang dipercayainya dan sekaligus memberikan keamanan kepada selainnya. Rasul saw. mengingatkan bahwa :

Demi Allah! tidak beriman,  Demi Allah! tidak beriman,  Demi Allah! tidak beriman. Para sahabat bertanya “Siapa wahai Rasulullah? “ Nabi menjawab: “Yang tidak memberi  rasa aman untuk  tetangganya dari gangguannya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Menciptakan kedamaian dan keamanan adalah salah satu bukti seseorang mentauladani sifat Allah Al-Salam (Maha Damai) dengan sifat Al-Mukmin (Pemberi  rasa aman) dimana kedua sifat bersandingan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hasyr {59}: 23). Dan Allah juga mengajak seluruh makhluk-Nya kepada kedamaian dan keamanan. (QS. Yunus {10}: 25).

Terwujudnya rasa aman dari gannguan juga akan terkait dengan kesejahteraan. Hakikat ini telah digambarkan dalam QS. Quraisy {106} ayat 3-4. Disana Allah menyebut dua anugrah besar yang dinikmati oleh masyarakat Mekkah pada masa Nabi Muhammad saw. yaitu nikmat keamanan dan nikmat kecukupan pangan/kesejahteraan. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa rasa aman mendahului kewajiban beribadah. Hal tersebut wajar bukankah karena sekian banyak ibadah wajib yang gugur akibat tidak terpenuhinya rasa aman. Ambillah sebagai contoh ibadah haji yang salah satu syaratnya adalah keamanan dalam perjalanan. Di salah satu negara yang tidak aman saat ini, misal negara Iraq dan Syiria, maka umat Islam di sana tidak bisa ibadah haji gugur kewajibannya karena tidak aman perjalanannya. Demikian juga shalat sekalipun tidak gugur tetapi shalatnya dilakukan dengan rasa takut dan tidak bisa khusyu’, begitu juga aktivitas lainnya menjadi sangat terganggu.

Jika demikian alangkah ruginya kehidupan manusia yang tidak bisa menciptakan rasa aman dan tidak bisa mensukuri nikmat persaudaraan sehimgga kehidupannya menjadi lemah baik secara politik, ekonomi, soaial maupun keagamaan.

Marilah kita mensyukuri ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan kita ini dengan menampilkan ajaran Islam yang penuh kesejukan, kasih sayang antar semua umat, saling hormat menghormati, memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam baik dari Al-Quran maupun Al-Sunnah dan juga belajar kepada para Alim Ulama’ yang soleh dan moderat, insyaAllah kita akan mendapatkan balasan yang paling terbaik dari Allah di dunia dan di akhirat. Amin

 

Ramadhan Bulan Jihad

Ramadhan Bulan Jihad

Oleh : Drs. H. Thobroni AG, MA

Dalam hitungan tanggal, tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki 1 Syawal 1435 H, ibadah Ramadhan Alhamdulillah dapat kita jalankan dengan segalan kesungguhan hati, secara syariah insya allah dapat kita jalankan dengan sempurna, namun apakah ibadah yang kita jalankan memberikan dalam hidup keseharian kita nantinya seusai Ramadhan, inilah yang di pesankan baginda Rasulullah SAW. Jangan sampai puasa kita tanpa pahala, hanya seukur lapar dan haus belaka.

Untuk itu mari kita merenung sejenak tentang keberadaan manusia di bumi ini yang mempunyai 2 potensi dalam kehidupan yakni buruk dan baik. Dalam al-quran surat As- Syams ayat 8-10 :

Yang artinya :Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Itulah suatu kenyataan dalam  hidup kita dibekali potensi besar yakni kefasikan atau kedurhakaan dan potensi baik atau ketakwaan.dengan potensi tersebut, maka manusia ketika sedang melakukan kedurhakaan, kezaliman, kesalahan, ketika itu hati tidak tenang, berontak, karena tidak sesuai dengan jiwanya. Hati berusaha untuk menghentikannya. Namun apadaya kadang amarah semakin menunjukan kuasanya.untuk itulah perlu adanya perjuangan yang dalam bahasa arab di sebut Jihad.

Jihad bukan sekedar perang dalam pengertian fisik, tapi dalam pengertian bathin yang kata nabi menggambarkannya dengan perang besar, ketika Rasulullah beserta para sahabat pulang dari perang badar yang dalam sejarah disebut perang sangat besar, tapi Rasulullah mengucapkan kata-kata yang tak diduga oleh para sahabat dengan sabdanya :

“Roja’na minal jihadil ashgor ilal jihadil akbar, jihadun nafsi”

“ Kita baru pulang dari perang yang kecil menuju perang yang besar yakni Jihadun Nafsi ( perang melawan hawa nafsu )”.ketika itu para sahabat menyadari betapa perang melawan hawa nafsu lebih berat ketimbang perang fisik.

Jihad merupakan perjuangan yang memerlukan kesungguhan dan merupakan bukti iman seseorang , firman Allah dalam surat Ali Imran : 142 :

Artinya : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Demikian terlihat bahwa Jihad merupakan cara yang di tetapkan Allah untuk menguji manusia.tampak pula kaitan yang sangat erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah sesuatu yang sulit, memerlukan kesabaran serta ketabahan.

Dalam kaitan dengan kesabaran dan jihad inilah maka Ramadhan di sebut Syahru Shobri ( bulan kesabaran ).dengan berpuasa bulan Ramadhan kita berupaya semaksimal mungkin menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat rusaknya pahala puasa , sampai-sampai kalau ada orang yang menantang untuk berantem, kita katakana Inni Shoim ( aku sedang berpuasa).

Maka karena itu didikan Ramadhan hendaknya dipelihara dengan sebaik-baiknya dan berlanjut diluar Ramadhan agar kita mendapat predikat orang yang sukses :

Dengan Jihad dan kesabaran yang tinggi, maka salah satu manfaatnya kita mendapat petunjuk jalan-jalan Allah, sebagaimana dalam Al-Quran surat al-ankabut : 69 :

Artinya : dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

 

 

Marhaban Ya Ramadhan

 MARHABAN YAA RAMADHAN

Oleh: Abdul Muis Beddu, SE.I

Sebuah kalimat indah yang biasa diucapkan ketika tiba bulan suci Ramadhan yakni “Marhaban Yaa Ramadhan”  yang berarti “Selamat Datang Ramadhan”, ini mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, dan tidak menganggap kehadiran bulan Ramadhan mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita. Marhaban Yaa Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan dididik agar lebih dekat kepada Allah Swt.

Lanjutkan membaca

AMANAH

AMANAH

Oleh: Taum Puli AS.

Khutbah Jum’at, 13 Juni 2014

Amanah adalah istilah yang belakangan ini menjadi sangat populer karena selalu diucapkan oleh semua kalangan kelas sosial. Amanah diucapkankan yang kaya maupun yang miskin, yang yang di kota maupun yang di desa, yang memerintah maupun yang diperintah. Istilah yang sering dikorelasikan dengan kekuasaan dan materi. Itu sebabnya kita sering mendengar, “Si A tidak amanah?” Karena ia sedang berkuasa. Begitu juga, “Si B tidak amanah?” Karena ia mereduksi fungsi harta sehingga bermanfaat  hanya untuk diri dan keluarganya saja.

Lanjutkan membaca

MEMAAFKAN ITU MENENTERAMKAN

Memberi maaf, sebenarnya tidak sulit, walaupun tidak bisa dikatakan mudah. Tidak sulit jika masalah yang terjadi hanyalah kasus-kasus yang ringan atau sepele. Begitu juga andaikan yang akan dimaafkan adalah orang tersayang, buah hati, anak dan keturunan. Dalam kasus seperti ini, memaafkan itu dapat dikatakan gampang. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah kasus ‘berat’? Atau mereka yang akan dimaafkan tidak ada hubungan khusus dengan kita? Atau, mudahkah memaafkan mereka yang telah berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama? Untuk semua pertanyaan itu, jawaban yang muncul biasanya adalah, memaafkan itu berat.

Lanjutkan membaca

MENSYUKURI NIKMAT MENJADI UMMAT NABI MUHAMMAD SAW

INTISARI KHUTBAH JUM’AT 10 Januari 2014

 Masjid Agung Attin Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta

Disampaikan Oleh Ustadz H. Abdul Rahman Bustomi, M.Pd.I.

 

MENSYUKURI NIKMAT MENJADI UMMAT NABI MUHAMMAD SAW

 

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan kami ummat Nabi yang Engkau Kasihi Muhammad SAW. Kenikmatan yang tiada tara yang telah Engkau berikan kepada kami yang tak mungkin kami mampu menghitungnya.

Shalawat serta salam semoga tercurah pada baginda Rasulullah, juga untuk sahabat, dan keluarga serta pengikutnya hingga akhir jaman.

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah.

Dalam sebuah dialog  antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya,  salah seorang sahabat bertanya “Wahai Rasul  “Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi kerasulan Engkau ?” Rasulullah menjawab; Sesungguhnya aku di sisi Allah SWT sudah tertulis sebagai penutup para Nabi  sementara Adam masih dalam proses pembentukan tanah, dan aku akan berikan kabar kepada mu sekalian tentang sesuatu yang lebih awal dari itu : (dari Irbad bin Syariyah)

Lanjutkan membaca

Antara Hati, Kebajikan dan Dosa

 Khutbah Jum’at, Masjid Agung At-Tin 9 Mei 2014

Oleh : Teguh Wibowo

 عن النواس بن سمعان رضي الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( البر حسن الخلق والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس ). رواه مسلم [ رقم : 2553 ]. وعن وابصه بن معبد رضي الله عنه ، قال : أتيت رسول الله صلي الله عليه وسلم ، فقال : ( جئت تسأل عن البر ؟ ) قلت : نعم ؛ فقال : ( استفت قلبك ؛ البر ما اطمأنت إليه النفس واطمأن إليه القلب ، والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر ، وإن أفتاك الناس وأفتوك ). حديث حسن ، رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل [ 4/ 227] ، والدارمي  بإسناد حسن .

[2/ 246]

 Artinya :

Dari Nawwas bin Sam’an RA dari Nabi SAW, Beliau SAW bersabda : ’’Kebajikan itu akhlaq yang terpuji, sedangkan dosa itu apa-apa yang membuat gundah di dalam jiwamu dan engkau membenci jika hal itu diketahui manusia.’’ HR Imam Muslim.

Lanjutkan membaca

Moralitas Pemimpin

Oleh : DR.H.M. Rusli Amin, MA

Khutbah Jumat 02 Mei 2014, Masjid Agung At-Tin

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, alladziy ja’ala khaliifatan fil ardhi, kama qaalallahu ta’aala fil Quraanil kariim : Bismillahirrahmanirrahim. Wa idz qaala Rabbuka lil malaaikati inniy jaa’ilun fil ardhi khaliifah. Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad. Ammaa ba’du.

Pertama-tama, saya mengajak kita semua agar senantiasa memuji Allah Swt dan bersyukur atas segala nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita semua, dan salah satu dari nikmat-nikmat tersebut adalah bahwa Dia telah menjadikan  manusia sebagai khalifah di muka bumi. Selanjutnya, marilah kita selalu menyampaikan shalawat serta salam kepada Nabi dan Rasul Allah yang paling mulia, Nabi Muhammad Saw.

Lanjutkan membaca

Keajaiban Shalat

KEAJAIBAN SHOLAT

Oleh : KH. Tohri Tohir

Sholat merupakan kewajiban setiap Mukmin untuk dikerjakan 5 kali dalam sehari. Sholat suatu Ibadah untuk mengakui adanya Allah dan sekaligus MengaggungkanNya, MensucikanNya, dan memujiNya. Sholat adalah komunikasi dengan Allah melalui Doa. Dalam sebuah Hadis dikatakan bahwa Sholat adalah tanda orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman.

Para ilmuwan melihat ada suatu keistimewaan atau suatu keajaiban yang bisa dijabarkan dalam rangakaian ibadah sholat.

keajaiban terdiri dari :

Lanjutkan membaca